Makam Ki Ageng Selo, dan Makam Ki
Bondan Kejawan (Lembu Peteng)
Dalam perkembangan islam di tanah
jawa, ternyata banyak sekali
membubuhkan mitos, budaya, adat,
dan legenda yang beragam. Kali ini
saya coba untuk mengupas sedikit
tetang keluarga Aji Saka.
Diceritakan bahwa aji saka ini adalah
sosok sakti yang mengalahkan dewata
cengkar, penguasa medang kamulan
yang suka memangsa manusia,
sehingga setelah sepeninggal dewata
cengkar diangkatah aji saka menjadi
prabu sekaligus penguasa medang
kamulan yang baru.
Disinilah cerita Bledug kuwu berasal.
Kisah ini berawal dari seekor ular
naga yang mengaku anak dari aji
saka, hal ini memang beralasan
mengingat aji saka pernah mempunyai
satu pengalaman unik. Pada suatu hari
Aji Saka sedang menyepi di hutan dia
melihat seekor ular naga yang sedang
bertapa di sebuah goa. Aji Saka panas
hatinya, ular tersebut dibunuhnya
setelah ular naga itu mati terdengarlah
suara . Suara tersebut berasal dari
arwah ular naga yang mati itu. Dan
umpatan ular itu nantinya menjadi
kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka
ingin nantinya menjadi kenyataan.
Pada suatu hari Aji Saka ingin
menengok Nyai Janda Sengkeran.
Dahulu ketika dia datang pertama kali
di negara Medang Kamulan dia
mengetahui Nyai Janda mempunyai
seorang anak perempuan yang cantik,
putri tersebut sekarang mestinya
sudah dewasa anak itu bernama Retno
Dewi Rarasati. Ketika dia sampai ke
rumah janda tersebut dia melihat
Retno Dewi Rarasati sedang
menumbuk padi. Kainnya terbuka
keatas dan kelihatanlah pahanya yang
mulus. melihat hal tersebut Aji Saka
jatuh birahinya. Dia tidak menahan
asmaranya maka jatuhlah air maninya
ke bumi kebetulan pada waktu itu ada
seekor ayam kate putih simbar delima
milik Nyi janda. Air mani itu
dimakannya kemudian pergi. Dilain
pihak Retno Dewi Rarasati melihat Aji
Saka seperti kena gendam dan jatuh
cinta nafsu asmaranya tidak
tertahankan, maka noktahnya jatuh
cinta. Nafsu asmaranya tidak
tertahankan maka noktahnya jatuh ke
bumi. Noktah itupun dimakan oleh
ayam kate tersebut . Kehendak Dewata
tidak dapat diingkari. Ayam tersebut
kemudian bertelur sebutir. Prabu Aji
Saka sangat malu dengan peristiwa
tersebut, inilah pembalasan ular naga
yang mati di bunuhnya. Selanjutnya
telur itulah yang kemudian berubah
menjadi seekor ular yang meminta
pertanggungjawaban dari sang prabu.
Sang prabu yang mengetahui hal
tersebut kemudian membuat
keputusan bahwa beliau akan
mengakui sang ular sebagai anaknya
apabila si jaka linglung begitu sebutan
ular tersebut, mampu mengalahkan
musuh sang prabu yaitu dewata
cengakar yang kini menjelma menjadi
buaya putih dan bersemayam di pantai
selatan. jaka lilinglung yang
menyanggupinya kemudian langsung
berangkat menuju pantai selatan
melalui bawah tanah sesuai syarat
sang prabu yang tidak ingin menakuti
penduduk sekitar. Sesampainya di
pantai selatan jaka linglung bertemu
dengan ratu pantai selatan yang kala
itu sedang sedih karena rakyatnya
diganggu oleh buaya putih jelmaan
dewata cengkar. atas kesepakatan
bersama jaka linglung maw membantu
sang ratu dengan imbalan dia akan
dinikahkan dengan salah satu dari
putri beliau. sambil menyelam minum
air . Kenyataannya jaka linglung
berhasil mengalahkan buaya putih
tersebut dan sesuai janji akhirnya
jaka linglung menikah dengan retno
blorong (nyi blorong) anak dari ratu
kidul. jaka linglung yang berhasil
mengalahkan buaya putih tersebut,
kembali menemui sang prabu untuk
meminta pengakuan. bersama blorong
dia kembali ke medang kamulan
dengan melewati jalur bawah tanah
sama seperti ketika dia berangkat.
Dia mengarah ke barat, lewat
Samudra, masuk ke dalam tanah,
timbul kembali di tanah pasundan.
Masuk ke tanah lagi timbul di Jawa
Tengah itu sebabnya di Jawa banyak
ditemukan sumber air yang
mengandung garam ( Bleng ), sebab
sumber itu merupakan petilasan Jaka
Linglung tersebut. Dalam
perjalanannya diteruskan ke timur
lewat bawah tanah dan muncul
kembali ke Demak di Desa Walak.
Masuk ke tanah lagi dan muncul
kembali di Grobogan dan berhenti di
rawa – rawa garam . Dari Ngembak
( Rawa – rawa ? ) Jaka Linglung
meneruskan perjalanan ke
Banyuwangi, terus ke Jana Cerewek,
ke Banjar, Dikil. Di Jati, Jaka Linglung
tidur, disitu upasnya jatuh. Tempat
jatuhnya upas itu kemudian
dinamakan Desa Gasak. Disinilah
kemudian ada “Bleduk Upas“ yang
tidak dapat dimakan. Jaka Linglung
melanjutkan perjalanan sampai ke
Kuwu. Disini agak lama. Dari Kuwu
inilah Jaka Linglung datang
menghadap Prabu Jaka di Medang
Kamulan sejak itulah dia diterima
sebagai Putera Prabu Jaka. Oleh
Prabu Jaka, Jaka Linglung diangkat
sebagai Putra Mahkota dengan
gelarnya Prabu Anom Linglung
Tunggul Wulung. Istana Kadipaten
kemudian dipindahkan ke Desa
Kesanga. Sedang istrinya Retno
Blorong ditempatkan di Grobogan di
Desa Ngembak, wilayah Medang Kana.
Kedaton Kesanga disebut pula Kedaton
Kadipaten, Tumenggungan, Kariyan
Panggabean atau Kranggan. Beberapa
waktu menjadi Adipati Anom Tunggul
Wulung kemudian pergi bertapa di
Tunggul Wulung Kesanga.
Lepas dari cerita Bledug Kuwu kita
beralih sejenak ke kisah ki ageng
selo. Saya ceritakan sedikit tentang
pohon keluarga dari Ki ageng selo.
Menurut cerita dalam babad tanah
Jawi (Meinama, 1905; Al – thoff,
1941), Ki Ageng Selo adalah keturunan
Majapahit. Raja Majapahit : Prabu
Brawijaya terakhir beristri putri
Wandan kuning. Dari putri ini lahir
seorang anak laki – laki yang
dinamakan Bondan Kejawan. Karena
menurut ramalan ahli nujum anak ini
akan membunuh ayahnya, maka oleh
raja, Bondan Kejawan dititipkan
kepada juru sabin raja : Ki Buyut
Masharar setelah dewasa oleh raja
diberikan kepada Ki Ageng Tarub
untuk berguru agama Islam dan ilmu
kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub,
namanya diubah menjadi Lembu
Peteng. Dia dikawinkan dengan putri
Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi
Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi
Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau
Kidang Telangkas tidak lama
meninggal dunia, dan Lembu Peteng
menggantikan kedudukan mertuanya,
dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari
perkawinan antara Lembu Peteng
dengan Nawangsih melahirkan anak Ki
Getas Pendowo dan seorang putri
yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra
tujuh orang yaitu : Ki Ageng Selo, Nyai
Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai
Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai
Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .
Cerita lengkap ki ageng selo klik disini
Nah sekarang sedikit ada penjelasan
mengenai hubungan darah antara ki
ageng selo dengan lembu peteng
kan?? Jadi bisa disimpulkan bahwa
lembu peteng atu ki bondan kejawan
adalah kakek dari ki ageng selo. Lalu
apa hubungannya dengan Bledug
kuwu???
Kita tahu bahwa terbentuknya bledug
kuwu disebabkan karena kepulangan
jaka linglung yang menempuh jalur
tanah dan kita ketahui ketika jaka
linglung kembali dia sudah beristrikan
retno blorong atau akrap kita sebut nyi
blorong. Disini korelasinya!! Ki
bondan kejawen setelah dewasa dia
diasuh oleh jaka tarub dimana jaka
tarub itu sendiri mempunyai seorang
istri bidadari bernama nawang wulan.
Dikisahkan bahwa nawang wulan
adalah seorang bidadari yang tidak
bisa kembali ke kahyangan
disebabkan selendangnya dicuri oleh
jaka tarub yang kemudian menjadi
suaminya. Dalam hubungannya
Nawang wulan tidak mengetahui kalau
ternyta jaka tarublah yang
membuatnya tidak bisa kembali ke
kahyangan, namun pada suatu hari
akhirnya nawang wulan
mengetahuinya dan akhirnya
meninggalkan suami dan anaknya
yang kala itu baru berusia 5 tahun.
Lama di kahyangan nawang wulan
merasa rindu dengan keluarganya dan
memutuskan untuk kembali ke dunia
dengan berbagai resiko yang
ditanggungnya. Maka dilanjutkanlah
kehidupannya di dunia bersama anak
dan suaminya samapi pada suatu
ketika saat itu tiba. nawang wwulan
telah mengetahui bahwa anak laki-
lakinya akan meninggal pada usia 20
tahun karena sakit dan saat putranya
meninggal dia harus mengabdi pada
seseorang yang tak lain adalah retno
blorong atau nyi blorong. Yups bener,
nyi blorong yang menikah dengan jaka
linglung putra ajisaka. dewi nawang
wulan diangakt menjadi anak oleh nyi
blorong dan tinggal selamanya disana
meninggalkan jakata tarub dan anak
keduanya nawangsih yang nantinya
akan menikah dengan ki bondan
kejawen atau lembu peteng kakek dari
ki ageng selo. Nah sekarang sudah
bisa menyimpulkan silsilah dan
korelasi dari ke3 tempat wisata
tersebut??
Singkatnya begini, bisa dikatakan
bahwa ki ageng selo adalah cicit dari
nyi blorong dan (yang paling bawah
dari cicit pa yah?? ) dari ajisaka, sang
pembuka jalan pertama kali dalam
masuknya islam di indonesia.
9/19/2015
KETERHUBUNGAN KELUARGA BLEDUG KUWU
9/12/2015
API ABADI MRAPEN
Api abadi Mrapen adalah sebuah
kompleks yang terletak di desa
Manggarmas, kecamatan Godong,
Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Kawasan ini terletak di tepi jalan raya
Purwodadi - Semarang, berjarak 26
km dari Kota Purwodadi. Kompleks api
abadi Mrapen merupakan fenomena
geologi alam berupa keluarnya gas
alam dari dalam tanah yang tersulut
api sehingga menciptakan api yang
tidak pernah padam walaupun turun
hujan sekalipun.
Banyak peristiwa besar mengambil
api dari kompleks api abadi Mrapen
sebagai sumber obornya, misalnya
pesta olahraga internasional Ganefo I
tanggal 1 November 1963. Api abadi
dari Mrapen juga digunakan untuk
menyalakan obor Pekan Olahraga
Nasional (PON) mulai PON X tahun
1981, POR PWI tahun 1983 dan
HAORNAS. Api abadi dari Mrapen juga
digunakan untuk obor upacara hari
raya Waisak.
Selain api abadi, di komplek tersebut
juga terdapat kolam dengan air
mendidih yang konon dapat
dipergunakan untuk mengobati
penyakit kulit, serta batu bobot yang
konon apabila seseorang dapat
mengangkatnya maka yang
mengangkat tersebut akan
mendapatkan keinginannya.
LEGENDA SENDANG COYO
Alkisah prabu anglingdarmo Raja
malowopati, seorang raja yang arif
dan bijaksana. yang mempunyai ilmu
bisa mendengar percakapan berbagai
macam binatang.
Ketika prabu angling darma sedang
bercanda dengan isterinya dewi
setyawati, tiba-tiba tersenyum
mendengar cicak jantan merayu cicak
betina. dei setyawati tersinggung
karena dia mengira suaminya
mencibir dirinya, dewi setyawati
marah dan mengancam akan
membakar diri apabila tidak diberi
penjelasan yang membuat suaminya
tersenyum.
Suaminya kemudian menjelaskan
bahwa dia bisa mendengar
percakapan berbagai binatang, dewi
setyawati menjadi tertarik dan
berkeinginan memiliki ilmu tersebut.
namun di tolak oleh prabu
anglingdarmo karena di samping tidak
tahu cara mrnurukan ilmu tersebut dia
juga sudah di pesan oleh gurunya
bahwa ilmu tersebut hanya dapat
dimiliki oleh dirinya sendiri. dewi
setyawati bukanya mengurungkan
permintaanya melainkan betul-betul
akan melaksanakan ancaman karena
prabu anglingdarmo mencintai istrinya
maka dia putuskan untuk bakar diri
berdua.
Kobaran api sudah menyala-yala
pangung untuk menerjunkan dewi
setyawati dan prabu anglingdarmo
sudah dipersiapkan. rakyat berduyun-
duyun memenuhi alun-alun untuk
menyaksiakn raja dan permaisurinya
melakukan bakar diri. dewi setyawati
menerjunkan diri dalam kobaran api.
ketika giliran prabu anglingdarmo,
tiba-tiba dia mendengar lecehan dari
seekor kambing. kambing tersebut
memakinya sebagai seorang raja yang
bodoh karena masalah kecil mau
menuruti ancaman istrinya yang tidak
masuk akal. prabu anglingdarmo
tersadar, segera dia berlari mencri air
utuk memadamkan api yang sudah
membakar istrinya. namun air sulit di
dapat, maka prabu anglingdarmo
membuat sendang yang airnya begiti
derasnya untuk memedamkan kobaran
api .
Sendang tersebut kemudian di jaga
oleh pengawal kerajaan yang bernama
Gabusrowo yang pandai mengapung
seperti gabus. penganti gabusrowo
adalah ki demang kepalang. untuk
mengabdikan sendang tersebut ki
demang kepalang puasa 40 hari 40
malam yang di mulai pada hari
anggara kasih (selasa kliwon) yang
berahir pada hari sukro manis (jum’at
legi). selesai puasa ki demang
kepalang karena dia merasakan
tubuhnya segar dan wajahnya seolah-
olah bercahaya oleh penduduk
setempat ahirnya sendang tersebut
dinamkan” sendang caya” yang
diambil dari kata cahaya yang berarti
bersinar.
BLEDUG KUWU
Jika Anda melintas di Purwodadi, disan terdapat situs kuno yang patut dikunjungi.
Maka mampir saja jika ingin
mengetahui jejak sejarah. Wisata
alam ini sungguh aneh, ajaib dan
menakjubkan. Bledug Kuwu namanya.
Konon, kubangan tanah yang
menyemburkan lumpur di Desa Kuwu,
Kecamatan Kradenan, Kabupaten
Grobogan itu adalah jejak ular raksasa
bernama Jaka Linglung. Dia usai
membunuh Bajul Putih di laut selatan.
Usai pertarungan, ia perjalanan pulang
melalui jalur bawah tanah dan
kubangan itu dipercaya sebagai bekas
tubuh Jaka Linglung yang keluar dari
dalam perut bumi.
9/10/2015
DIBALIK KEINDAHAN POHON YANG DIKERAMATKAN
kenapa pohon yang dikeramatkan
adalahpohon yang besar dan berusia
tua? Kenapa mayoritas adalah pohon
beringin? Jawabannya adalah karena
pohon,terutama pohon beringin yang
besar memiliki nilai hidrologis yang
tinggi.Struktur perakaran pohon
beringin yang dalam menjadikannya
mampu menyimpan cadangan air
dengan baik pada musim hujan dan
mengeluarkannyapada musim
kemarau. Kita tidak pernah menyadari
bahwa sebenarnya pohon beringin
tumbuh di daerah yang menjadi
sumber air. Semakin banyak
keberadaan pohon beringindi suatu
daerah maka ketersediaan air di
daerah tersebut akan semakinterjaga.
Kita dapat membedakan bagaimana
kondisi air di daerah yang banyak
terdapat pohon (di desa) dengan
daerah yang sangat sedikit pohonnya
(di kota). Itulah sebabnya mengapa
penduduk kota banyak yang
menggunakan air dariPDAM.Zaman
semakin maju dan perkembangan
teknologi semakin pesat. Sudah
saatnya kita meninggalkan
pemahaman yang salah tentang pohon
keramat. Sebagai manusia terdidik,
kita harus mampu melihatnya dari
sudut pandang ilmiah bahwa di balik
pengeramatan suatu pohon pasti ada
maksud tersembunyi di baliknya. Jika
kita tidak diperbolehkan menebang
suatu pohon, itu artinya bahwa pohon
memiliki fungsi strategis untuk
menjaga sumber air yang kita gunakan
sehari-hari. Jika kita menebang
semua pohon, terutama pohon besar
yang berusia tua, dari mana kita akan
mendapatkan cadangan air? Pada
akhirnya, istilah pohon keramat
menjadi local wisdom yang harus kita
jaga namun disertai dengan
pemahaman yangbenar tentang sebab
pengeramatan pohon tersebut.
Pengeramatan pohon hanyalah satu
cara agar kita bisa menjaga
sumberdaya air kita untuk kehidupan
yang lebih baik.Sudahkah kita
paham
FOSIL KEPALALA KERBAU RAKSASA DITEMUKAN DI GROBOGAN
Warga Desa Banjarejo, Kecamatan
Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa
Tengah, digemparkan dengan
penemuan fosil yang menyerupai
kepala kerbau berukuran raksasa,
Rabu (09/09/2015) sore.
Fosil yang ditemukan oleh seorang
warga setempat di sungai lusi itu,
berukuran tiga kali lipat lebih besar
jika dibandingkan dengan ukuran
kepala kerbau pada umumnya.
Penemu fosil, Budi Setyo Utomo (35),
menuturkan, dirinya menemukan fosil
tersebut saat mencari ikan di Sungai
Lusi yang tak jauh dari rumahnya
beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, kata Budi, dirinya yang
sedang berenang di tengah aliran
sungai tak sengaja menginjak benda
keras. Benda yang cukup memancing
rasa penasarannya itu kemudian
ditelusuri.
" Saat saya berenang di sungai, saya
terkaget karena menginjak sesuatu
benda. Karena penasaran saya lalu
mencoba mengeceknya. Saat itu
kedalaman air sungai sekitar 60 cm
dan saya tepat berada di tengah-
tengah sungai. Saya lalu menyelam
dan menggalinya. Dan ternyata benda
itu bertanduk seperti kepala kerbau .
Saya temukan sepuluh hari lalu
sekitar pukul tiga sore, " terang Budi
Karena ukuran benda yang
ditemukannya itu cukup besar, maka
Budi meminta bantuan warga untuk
mengeluarkannya dari dasar sungai.
RIWAYAT GEREJA KRISTEN KALICERET
Di sebelah selatan kota Gubug atau ±
8 km ke arah kota Salatiga, terdapat
sebuah dusun bernama Kaliceret.
Dusun tersebut masuk wilayah desa
Mrisi kecamatan Tanggungharjo
Kabupaten Grobogan. Dusun yang
terletak di atas bukit kapur tersebut,
ternyata memiliki bangunan tua
peninggalan zaman pemerintah
kolonial Belanda dahulu. Wujud
bangunan tua tersebut, antara
lainberupa gereja Kristen, bangunan
bekas rumah sakit, dan juga bekas
bangunan kantor rumah sakit. Karena
letak ketiga bangunan yang saling
berdekatan, tampak mempunyai
keterkaitan misi dalam pengembangan
agama Kristen. Dapat dibayangkan
bahwa dusun Kaliceret yang sepi itu,
ternyata dulu pernah menjadi pusat
kegiatan keagamaan dan kemanusiaan
yang dilaksanakan oleh warga
Kristen.Seperti diceritakan dalam
kitab ”Babad Zending di Tanah Jawi”
karangan J.D. WOLTERBEEK, bahwa
gereja tersebut dibangun oleh
perkumpulan Salatiga Zending (S Z)
dalam misinya mengembangkan
agama Kristen di tanah Jawa.
Ditulisnya pula dengan menggunakan
bahasa Jawa sebagai berikut :
“………... Ing rikoe sampoen wonten
pasamoeanipun naliko
djoemenengipun pandito C.R.Kuhnen
ingkang djoemeneng pandito ing
Kalitjeret wiwit tahun 1892 doemoegi
1904 sarto ladjeng dados inspecteur
toewin directeur S.Z wonten ing
Utrecht ing negari Welandi. Ing
djadjahan Kalitjeret panditanipoen
lestantoen manggen wonten ing
doesoen Kalitjeret boten pindah ing
kita kradjaning djadjahanipoen inggih
poeniko kita Demak ………..
Sapengkeripoen pandita Kuhnen ing
Kalitjeret ingkang djoemeneng pandita
toewan H. Kabelitz. Djoemeneng ing
Kalitjeret dumugi ing tahoen
1927”.Dari tulisan itu dapat
dijelaskan, bahwa pada tahun 1892
pendeta C.R.Kuhnen diangkat menjadi
pendeta di Kaliceret. Saat itu di
Kaliceret sudah ada beberapa warga
yang memeluk agama Kristen, dan
sudah melaksanakan kegiatan
pertemuanjamaah setiap hari Minggu
pagi. Sebagai pemimpin jamaah
kadang pendeta yang datang dari
Salatiga, atau kadang dipimpin warga
setempat. Pada tahun 1904
C.R.Kuhnen diangkat menjadi
inspektur dan direktur pada S Z
(Salatiga Zending), yang terletak di
Ultrecht (sebuah kota di negara
Belanda). Selama menjadi pendeta di
wilayah Kaliceret, beliau tinggal di
dusun Kaliceret. Beliau tidak mau
bertempat tinggal di kota pusatwilayah
di Demak, karena ingin selalu dekat
dengan warganya. Sepeninggal
pendeta Kuhnen, yang bertugas
menjadi pendeta di Kaliceret adalah
tuan Kabelitz.Beliau melaksanakan
tugas sebagai pendeta di Kaliceret,
sampai tahun 1927. Kemungkinan
yang dimaksud pusat kota wilayah
dalam kitab Babat Zending di Tanah
Jawi tersebut, adalah pusat wilayah
agama Kristen dan bukan merupakan
pusat wilayah pemerintahan.
Demikian juga berdasarkan sekelumit
penjelasan dalam buku itu,
diperkirakan gereja Kristen, kantor
rumah sakit serta rumah sakit Kristen
yang ada di dusun Kaliceret didirikan
antara tahun 1904 sampai tahun 1927.
Adapun pelaksanaan pembangunan
dipimpin pendeta Kabelitz, dengan
mendapat bantuan dana dari SZ
(Salatiga Zending) di kota Ultrecht
Belanda yang dipimpin pendeta
C.R.Kuhnen. Hal tersebut bisa terjadi
karena pendeta C R. Kuhnen pernah
bertugas di wilayah kaliceret,
sehingga beliau tahu apa yang
dibutuhkan guna pengembangan
agama Kristen di daerah itu. Melihat
cukup lama pendeta Kabelitz bertugas
di wilayah dusun Kaliceret, sehingga
diperkirakan ketiga bangunan tersebut
didirikan secara berurutan. Adapun
yang didirikan pertama kali tentu
bangunan gereja Kristen, mengingat
sebagian besar penduduk dusun
Kaliceret adalah pemeluk agama
Kristen. Adapun sebagai tempat
pelaksanaan pasamuan (doa kebaktian
bersama) waktu itu berada di rumah
milik penduduk, sehingga dibutuhkan
sebuah gereja. Dengan kebutuhan itu,
maka pembangunan gereja tersebut
dilaksanakan.Karena sebagai salah
satu misi agama Kristen waktu itu
juga dalam bidang kesehatan, maka di
dusun Kaliceret didirikan polikliniek
yang akhirnya dapat berkembang
menjadi rumah sakit. Setelahrumah
sakit tersebut berdiri, barulah
dibangun kantor rumah sakit yang
terletak di depannya. Seperti
dijelaskan dalam kitab Babad Zending
di Tanah Jawi, bahwa pada awalnya
para pendeta itulah yang mengobati
warganya yang menderita sakit.
Tetapi pada sekitar tahun 1903
Kabupaten Demak dan Grobogan
terjangkit wabah penyakit, sehingga
pendeta tidak mampu lagi menangani
para pasien yang banyak berobat
kepadanya. Atas bantuan dari Salatiga
Zending maka di Kaliceret didirikan
poliklinik, serta dikirim pula mantri
verpleegster dan vroedvrouw
(sekarang perawat kesehatan) ke
daerah itu. Dengan semakin
banyaknya pasien yang memerlukan
rawat inap, maka dibangun beberapa
bangsal untuk merawat orang sakit.
Akhirnya poliklinik itu berkembang
menjadi sebuah rumah sakit, dengan
diberi nama”Pitoeloengan”.Adapun
nama tersebut disesuaikan dengan
nama rumah sakit Kristen, yang telah
didirikan oleh perkumpulan Zending di
kota Semarang, Purwodadi atau di
Demak. Rumah sakit dikota tersebut,
akhirnya diambil alih pemerintah dan
menjadi Rumah Sakit Umum setelah
Indonesia merdeka.Rumah sakit
Kristen di dusun Kaliceret waktu itu
cukup besar, dan banyak dikunjungi
masyarakat yang berobat
ataumelakukan rawat inap. Ternyata
pengunjung rumah sakit tersebut tidak
hanya khusus bagi warga beragama
Kristen saja, tetapi juga banyak pasien
beragama lain yang datang berobat.
Dengan demikian rumah sakit Kristen
tersebut adalah bersifat umum, dan
tidak membeda-bedakanpada umat
beragamalain. Rumah sakit tersebut
dipimpin seorang dokter Belanda, yang
hanya pada hari-hari tertentu berada
di rumah sakit tersebut. Untuk hari-
hari biasa rumah sakit tersebut
dilayani seorang mantri polikliniek,
dengan dibantu oleh zuster.Perjalanan
rumah sakit Kristen di dusun Kaliceret
cukup lama juga, hingga sampaipada
pemerintahan negara Indonesia.
Adapun pasien di rumah sakit itu, ada
yang berasal dari wilayah Kawedanan
Singenkidul, dan ada pula yang
berasal dari wilayah Kota Praja
Salatiga bagian Utara. Pada waktu
dulu cara mengangkutpasien menuju
ke rumah sakit, menggunakan alat
yang sederhana sekali. Pasien
diangkat menggunakan kursi atau
tempat tidur kecil, kemudian dipikul
oleh empat orang. Keluarga atau famili
berjalan di belakang, dengan
membawa tikar atau beberapa potong
pakaian ganti.Sebelum tahun 1960-an,
rumah sakit tersebut masih menerima
pasien rawat inap. Tetapi setelah
tahun 1960, rumah sakit Kristen di
Kaliceret itu tidak lagi menerima
pasien rawat inap lagi. Tidak jelas
mengapa hal itu dapat terjadi, karena
sejak itu ruangan sebagai tempat
rawat inap menjadi kosong.Sekitar
tahun 1973, sebagian bangunan
bangsal bekas rumah sakit di dusun
kaliceret dirobohkan oleh Panitia
Pembangunan Rumah sakit Kristen di
kota Purwodadi. Hal tersebut
dilakukan, karena kayunya digunakan
membangun rumah sakit Yayasan
Kristen Untuk Kesehatan Umum
(Yakkum) yang akan didirikan di kota
Purwodadi. Setelah bangunan rumah
sakit Yakkum di kota Purwodadi
selesai dikerjakan, Panitia
Pembangunan memberinya nama
RumahSakit Panti Rahayu. Rumah
sakit YakkumPurwodadi sekarang
sangat menjadi terkenal di Kabupaten
Grobogan, yang mungkin hampir sama
terkenalnya dengan rumah sakit
”Pitoeloengan” Kaliceret waktu
dulu.Bekas bangunan kantor rumah
sakit Kristen di dusun Kaliceret,
terletak berhadapan dengan bangunan
rumah sakit atau disebelah utara
bangunan gereja Kristen. Seluruh
bangunan kantor terbuat dari kayu jati,
dengan bentuk bangunan yang bergaya
khas Eropa. Sebagai ciri dari bentuk
bangunan ala Barat tersebut, antara
lain memiliki pintu dan daun jendela
yang tinggi. Dulu bangunan kantor itu
selain digunakan sebagai kantor
rumah sakit, juga digunakan sebagai
tempat tinggal pendeta yang
melaksanakan tugas disana. Sebagai
upaya dari misi Zending untuk
mengembangkan agama Kristen di
daerah Kaliceret, ternyata dapat
berjalan dengan cukup baik. Hal
tersebut terbukti dengan dapat
berkembangnya agama Kristen di desa
Ringinharjo dan Ringinkidul, yang
masih dalam wilayah Asistenan
Gubug. Karena melihat perkembangan
agama Kristen di dua desa itu cukup
baik, maka dengan mendapatkan
bantuan dana dari perkumpulan
Zending didirikan sebuah gereja
Kristen. Adapun gereja Kristen itu
didirikan di desa Ringinkidul, yang
diberi nama gereja ”Tempurung”.
8/28/2015
Dolar Melambung Rakyat Kecil Menangis
Sampai saat ini memang dolar memang kian
melambung tinggi Dan tidak salah
bila harga bahan kebutuhan pokok
pun juga juga ikut naik Dalam
kunjungan kami tadi 29/08/2015
kerumah warga dusun Jati Sukorejo
Tegowanu bertemu salah seorang ibu
bernama Sukanti, Ia berkata bahwa
donyo iki arep dadi opo ( dunia ini
mau jadi apa ) Dibilang merdeka ko
malah rakyat kecil kian menderita
UJAR BELIAU
Harapan mereka semoga Presiden Jokowi bisa
melihat keluhan rakyatnya dan bisa
segera mengatur ekonomi Indonesia ini
Demikian info yang saya dapat
dari salah seorang warga tadi
Alfamart Mrapen Dibobol
Aksi pencurian
terjadi di Alfamart Desa
Manggarmas, Kecamatan Godong,
Jumat (28/8/2015) dini hari. Dalam
aksinya ini, kawanan penjahat
berhasil menggasak uang tunai dan
menjarah barang-barang di dalam
toko modern yang berlokasi di
pinggir jalan raya Purwodadi-
Semarang itu. Akibat kejadian itu,
Alfamart ditaksir menelan kerugian
hingga Rp 80 juta.
Dari informasi yang dihimpun,
pencurian itu diketahui beberapa
saat setelah karyawan Alfamart
buka toko. Saat itu mereka
mendapati kondisi di dalam toko
banyak barang kocar-kacir dan
berserakan. Setelah diperiksa,
banyak barang hilang dan ada
lubang di tembok belakang.
Selanjutnya, peristiwa itu
dilaporkan pada pihak kepolisian.
Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP
Agung Ariyanto ketika dikonfirmasi
membenarkan adanya informasi
pencurian di toko modern tersebut.
Menurutnya, pelaku masuk ke
dalam toko dengan cara membobol
tembok bagian belakang.
“Pelaku pencurian ini adalah
jaringan profesional dan sangat
berpengalaman. Sebab, cara masuk
ke lokasi bisa dibilang dilakukan
dengan rapi,” katanya.
Dia menjelaskan, sebelum
membobol, pelaku lebih dulu
mencari titik tembok yang mudah
dilalui. Hal itu dibuktikan dengan
adanya tiga titik bekas pukulan
palu besar di tembok belakang.
Setelah pelaku menemukan
titiknya, tembok tersebut kemudian
dibor. Setelah itu, pelaku
memperbesar lubang tembok
dengan linggis atau palu besar agar
bisa dilalui orang. Modus pelaku itu
diketahui setelah petugas
menemukan mata bor yang
tertinggal di dekat lokasi.
Begitu berhasil masuk ke dalam
toko, pelaku dapat leluasa
menggasak barang yang ada di
dalamnya. Sebab, sebelumnya,
pelaku sudah menutup kamera cctv
dengan lakban. Akibat pencurian
ini, total kerugian diperkirakan
mencapai Rp 80 juta.
Tebing Goa Ular
Obyek wisata yang perlu dilestarikan terletak di ds Dokoro,kec.wirosari.
Disini anda bisa
melihat daerah
wirosari,tawangharjo dari ketinggian.
Jangan lupa kunjungannya ya
Banyak Pelanggaran APK Pilkada Grobogan
Memasuki hari kedua kampanye Pilkada
Grobogan, Panwaslu setempat
menemkan banyak pelanggaran
pemasangan alat peraga kampanye
(APK) yang dilakukan pasangan calon
(Paslon) Icek Baskoro-Sugeng
Prasetyo dan Sri Sumarni-Edy
Maryono.
“Semua alat peraga kampanye yang
menyalahi aturan akan diturunkan
paksa. Termasuk stiker dan branding
calon bupati dan wakil bupati
Grobogan yang dipasang di mobil
menyalahi aturan. Meski kami sudah
menurunkan 57 alat peraga kampanye
(APK) yang dipasang menyalahi
aturan, tetapi di lapangan ternyata
masih banyak ditemukan pelanggaran
serupa,” ungkapnya, Jumat
(28/08/2015).
Sebelum dilakukan penurunan,
Panwaslu melayangkan surat kepada
tim kampanye pasangan calon bupati-
cawabup bersangkutan. Jika sampai
batas waktu yang ditentukan belum
juga menurunkan, maka Panwaslu
akan minta bantuan Satpol PP.
Ketua KPU Grobogan Afrosin Arif,
menambahkan, pemasangan APK
sudah ada ketentuan sesuai jenis,
ukuran dan zona. Sehingga, kalau ada
APK yang dipasang tidak sesuai
aturan dan prosedur, maka Panwaslu
dan Satpol PP perlu bertindak tegas.
Kasi Trantib Satpol PP Grobogan
Widodo Joko Nugroho mengaku siap
menurunkan APK yang menyalahi
aturan. (Tas)
8/27/2015
KPK Panggil Kapolres Grobogan
Komisi Pemberantasan Korupsi menjadwalkan
pemeriksaan bagi Kepala Polres
Grobogan Polda Jawa Tengah, AKBP
Indra Darmawan, sebagai saksi dalam
kasus dugaan korupsi pengadaan
driving simulator pada Korps Lalu
Lintas Mabes Polri Tahun Anggaran
2011.
Ia akan diperiksa sebagai saksi bagi
tersangka Direktur PT Inovasi
Teknologi Indonesia (ITI) Sukotjo
Sastronegoro Bambang.
"KPK menjadwalkan pemeriksaan
saksi terkait kasus korupsi pengadaan
driving simulator dengan tersangka
SSB," ujar Pelaksana harian Kepala
Biro Humas KPK Yuyuk Andriati, Jumat
(28/8/2015).
Penyidik juga memanggil Wakil
Direktur Lalulintas Polda Sulawesi
Selatan AKBP Heru Trisasono sebagai
saksi dalam kasus ini. Beberapa
waktu belakangan, KPK mengebut
pemeriksaan sejumlah saksi dari
pihak Polri, baik polisi aktif mau pun
pensiunan.
KPK sebelumnya telah menetapkan
mantan Kakorlantas Polri Irjen Djoko
Susilo, mantan Wakil Kakorlantas
Polri Brigadir Jenderal Pol Didik
Purnomo, dan Direktur PT Citra
Mandiri Metalindo Abadi Budi Susanto
sebagai tersangka.
Dalam berkas dakwaan Didik
Purnomo, Sukotjo selaku tender
pengadaan simulator pengemudi roda
dua dan roda empat menyuap Didik
sebesar Rp 50 juta. Didik dianggap
menyalahgunakan wewenang sebagai
pejabat pembuat kewenangan dalam
menandatangani harga perkiraan
sendiri dan spesifikasi teknis
pengadaan simulator roda dua dan
roda empat.
Harga perkiraan sendiri (HPS) yang
ditetapkan untuk simulator roda dua
sebanyak 700 unit adalah Rp 79,9 juta
per unit. Adapun HPS simulator
pengemudi roda empat sebanyak 556
unit adalah Rp 258,9 juta per unit.
Dengan demikian, total harga
pengadaan simulator roda dua sebesar
Rp 55,93 miliar dan untuk roda empat
Rp 143,948 miliar.
Pada 25 Januari 2011, panitia
pengadaan Korlantas Polri
mengumumkan pemenang lelang
pengadaan simulator roda dua dan
roda empat. Agar seolah-olah
pelelangan telah dilakukan, Budi
meminta Sukotjo mempersiapkan
beberapa perusahaan yang namanya
akan dipinjam untuk dijadikan peserta
lelang.
Pelaksanaan proses pelelangan
tersebut sudah diatur sedemikian rupa
agar PT CMMA dinyatakan lulus
administrasi dan teknis.
Didik selaku pejabat pembuat
keputusan (PPK), dan disetujui oleh
Djoko Susilo, menerbitkan surat
keterangan yang menyatakan PT
CMMA sebagai pemenang lelang dan
menunjuk perusahaan tersebut untuk
melaksanakan pengadaan simulator
roda dua dan roda empat.
Berdasarkan laporan Hasil
Pemeriksaan Investigatif dalam
Penghitungan Kerugian Negara atas
Pengadaan Driving Simulator Roda
Dua dan Roda Empat pada Korps Lalu
Lintas Tahun Anggaran 2011",
perbuatan Didik menyebabkan
kerugian negara sebesar Rp
121.830.768.863.
Ki Ageng Selo
Babad Tanah Jawi menyebutkan, Ki
Ageng Selo adalah keturunan Raja
Majapahit, Brawijaya V. Pernikahan
Brawijaya V dengan Putri Wandan
Kuning melahirkan Bondan Kejawen
atau Lembu Peteng. Lembu Peteng
yang menikah dengan Dewi
Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub,
menurunkan Ki Ageng Getas Pendawa.
Dari Ki Ageng Getas Pendawa lahirlah
Bogus Sogom alias Syekh
Abdurrahman alias Ki Ageng Selo.
Lantas, bagaimana juntrungan-nya Ki
Ageng Selo bisa disebut penurun raja-
raja Mataram? Ki Ageng Selo
menurunkan Ki Ageng Ngenis. Ki
Ageng Ngenis menurunkan Ki Ageng
Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan
menurunkan Panembahan Senapati.
Dari Panembahan Senapati inilah
diturunkan para raja Mataram sampai
sekarang.
Namun, perkembangan ini hendaknya
tidak melenakan, bahwa di sisi lain
ada hal urgen yang mutlak
diperhatikan. Yaitu, keabadian sejarah
dan konsistensi mengamalkan Serat
Pepali Ki Ageng Selo, yang merupakan
pengejawantahan ajaran Al-Qur’an
dan Hadits Nabi.
Untuk yang pertama (mengabadikan
sejarah) meniscayakan adanya
kodifikasi sejarah Ki Ageng Selo
dalam satu buku khusus, sebagaimana
Wali Songo dan para wali lain bahkan
para kiai mutakhir juga diabadikan
ketokohan, jasa-jasa, dan
keteladanannya dalam catatan sejarah
yang utuh dan tuntas. Dari
pengamatan penulis, buku-buku
sejarah yang ada saat ini hanya
menuturkan sekelumit saja tentang
keberadaan Ki Ageng Selo sebagai
penurun para raja Mataram (Surakarta
dan Yogyakarta), serta
kedigdayaannya menangkap petir
(bledeg).
Minimnya perhatian ahli sejarah dan
langkanya buku sejarah yang
mengupas tuntas sejarah waliyullah
sang penangkap petir, memunculkan
kekhawatiran akan keasingan
generasi mendatang dari sosok mulia
kakek moyang raja-raja Mataram.
Tidak mustahil, anak cucu kita
(termasuk warga Surakarta dan
Yogyakarta) akan asing dengan siapa
dan apa jasa Ki Ageng Selo serta
keteladanan-keteladanannya.
Barangkali tidak banyak yang tahu
bahwa Surakarta dan Yogyakarta
memiliki ikatan sejarah dan
emosional yang erat dengan Selo.
Mungkin hanya warga di lingkungan
Keraton yang mengetahui itu. Padahal
ikatan itu kian kukuh dengan
diabadikannya api bledeg di tiga kota
tersebut. Bahkan pada tahun-tahun
tertentu (Tahun Dal), untuk keperluan
Gerebeg dan sebagainya, Keraton
Surakarta mengambil api dari Selo.
Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita
legendaris. Tokoh ini dianggap
sebagai penurun raja - raja Mataram,
Surakarta dan Yogyakarta sampai
sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai
Ageng Ngabdurahman Sela, dimana
sekarang makamnya terdapat di desa
Sela, Kecamatan Tawangharjo,
Kabupaten Dati II Grobogan, adalah
tokoh legendaris yang cukup dikenal
oleh masyarakat Daerah Grobogan,
namun belum banyak diketahui
tentang sejarahnya yang sebenarnya.
Dalam cerita tersebut dia lebih
dikenal sebagai tokoh sakti yang
mampu menangkap halilintar
(bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah
Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff,
1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan
Majapahit. Raja Majapahit : Prabu
Brawijaya terakhir beristri putri
Wandan kuning. Dari putri ini lahir
seorang anak laki - laki yang
dinamakan Bondan Kejawan. Karena
menurut ramalan ahli nujum anak ini
akan membunuh ayahnya, maka oleh
raja, Bondan Kejawan dititipkan
kepada juru sabin raja : Ki Buyut
Masharar setelah dewasa oleh raja
diberikan kepada Ki Ageng Tarub
untuk berguru agama Islam dan ilmu
kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub,
namanya diubah menjadi Lembu
Peteng. Dia dikawinkan dengan putri
Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi
Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi
Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau
Kidang Telangkas tidak lama
meninggal dunia, dan Lembu Peteng
menggantikan kedudukan mertuanya,
dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari
perkawinan antara Lembu Peteng
dengan Nawangsih melahirkan anak Ki
Getas Pendowo dan seorang putri
yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra
tujuh orang yaitu :
1. Ki Ageng Sela,
2. Nyai Ageng Pakis,
3. Nyai Ageng Purna,
4. Nyai Ageng Kare,
5. Nyai Ageng Wanglu,
6. Nyai Ageng Bokong,
7. Nyai Ageng Adibaya .
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah
bertapa dihutan, gua, dan gunung
sambil bertani menggarap sawah. Dia
tidak mementingkan harta dunia.
Hasil sawahnya dibagi - bagikan
kepada tetangganya yang
membutuhkan agar hidup
berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki
Ageng Sela mendirikan perguruan
Islam. Muridnya banyak, datang dari
berbagai penjuru daerah. Salah satu
muridnya adalah Mas Karebet calon
Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam
tapanya itu Ki Ageng selalu memohon
kepada Tuhan agar dia dapat
menurunkan raja - raja besar yang
menguasai seluruh Jawa .
Kala semanten Ki Ageng sampun
pitung dinten pitung dalu wonten gubug
pagagan saler wetaning Tarub, ing
wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng
sare wonten ing ngriku, Ki Jaka
Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten
ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng
wana nyangking kudhi, badhe babad.
Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka
Tingkir sampun wonten ing Wana,
Sastra sakhatahing kekajengan
sampun sami rebah, kaseredan
dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35
- 36 ) .
Impian tersebut mengandung makna
bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk
dapat menurunkan raja - raja besar
sudah di dahului oleh Jaka Tingkir
atau Mas Karebet, Sultan Pajang
pertama. Ki Ageng kecewa, namun
akhirnya hatinya berserah kepada
kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Hanya kemudian kepada Jaka tingkir,
Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena
nyambungi ing wahyumu
(Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ).
Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin
melamar menjadi prajurit Tamtama di
Demak. Syaratnya dia harus mau diuji
dahulu dengan diadu dengan banteng
liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh
banteng tersebut, tetapi dia takut kena
percikan darahnya. Akibatnya
lamarannya ditolak, sebab seorang
prajurit tidak boleh takut melihat
darah. Karena sakit hati maka Ki
Ageng mengamuk, tetapi kalah dan
kembali ke desanya : Sela.
Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng
Sela menangkap “ bledheg “ cerita
tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana
masih hidup pada suatu hari Ki Ageng
Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat
mendung, pertanda hari akan hujan.
Tidak lama memang benar - benar
hujan lebat turun. Halilintar
menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela
tetap enak - enak menyangkul, baru
sebentar dia mencangkul, datanglah “
bledheg “ itu menyambar Ki Ageng,
berwujud seorang kakek - kakek.
Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya
dan kena, kemudian diikat dipohon
gandri, dan dia meneruskan
mencangkul sawahnya. Setelah cukup,
dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa
pulang dan dihaturkan kepada Sultan
demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu
ditaruh didalam jeruji besi yang kuat
dan ditaruh ditengah alun - alun.
Banyak orang yang berdatangan untuk
melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu
datanglah seorang nenek - nenek
dengan membawa air kendi. Air itu
diberikan kepada kakek “ bledheg “
dan diminumnya. Setelah minum
terdengarlah menggelegar
memekakkan telinga. Bersamaan
dengan itu lenyaplah kakek dan nenek
“ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi
tempat mengurung kakek “ bledheg
hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng
nanggap wayang kulit dengan dhalang
Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik.
Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak.
Maka untuk dapat memperistri Nyai
Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang
Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “
Bende “ tersebut kemudian diberi
nama Kyai Bicak, yang kemudian
menjadi pusaka Kerajaan Mataram.
Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan
suaranya menggema, bertanda
perangnya akan menang tetapi kalau
dipukul tidak berbunyi pertanda
perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki
Ageng Sela sedang menggendong
anaknya di tengah tanaman waluh
dihalaman rumahnya. Datanglah orang
mengamuk kepadanya. Orang itu
dapat dibunuhnya, tetapi dia “
kesrimpet “ batang waluh dan jatuh
telentang, sehingga kainnya lepas dan
dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa
tersebut maka Ki Ageng Sela
menjatuhkan umpatan, bahwa anak
turunnya dilarang menanam waluh di
halaman rumah memakai kain cinde .
Saha lajeng dhawahaken prapasa,
benjeng ing saturun - turunipun
sampun nganthos wonten ingkang
nyamping cindhe serta nanem waluh
serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto
: 1928 : 152 – 153 ).
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng
Sela mempunyai putra tujuh orang
yaitu :
1. Nyai Ageng Lurung Tengah,
2. Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ),
3. Nyai Ageng Basri,
4. Nyai Ageng Jati,
5. Nyai Ageng Patanen,
6. Nyai Ageng Pakis Dadu, dan
bungsunya putra laki - laki bernama
7. Kyai Ageng Enis.
Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng
Pamanahan yang kawin dengan putri
sulung Kyai Ageng Saba, dan
melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar
atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan
Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan
bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng
Enis juga mengambil anak angkat
bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga
dipersaudarakan dan bersama - sama
berguru kepada Sunan Kalijaga
bersama dengan Sultan Pajang
Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas
kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis
diminta bertempat tinggal didusun
lawiyan, maka kemudian terkenal
dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan.
Ketika dia meninggal juga
dimakamkan di desa Lawiyan. ( M.
Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .
Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela
adalah nenek moyang raja - raja
Mataram Surakarta dan Yogyakarta.
Bahkan pemujaan kepada makam Ki
Ageng Sela sampai sekarang masih
ditradisikan oleh raja - raja Surakarta
dan Yogyakarta tersebut. Sebelum
GREBEG Mulud, utusan dari Surakarta
datang ke makam Ki Ageng Sela untuk
mengambil api abadi yang selalu
menyala didalam makam tersebut.
Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh
raja - raja Yogyakarta Api dari Sela
dianggap sebagai keramat .
Bahkan dikatakan bahwa dahulu
pengambilan api dilakukan dengan
memakai arak - arakan, agar setiap
pangeran juga dapat mengambil api
itu dan dinyalakan ditempat pemujaan
di rumah masing - masing. Menurut
Shrieke api sela itu sesungguhnya
mencerminkan “asas kekuasaan
bersinar “. Bahkan data - data dari
sumber babad mengatakan bahkan
kekuasaan sinar itu merupakan
lambang kekuasaan raja - raja
didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat
Ken Dedes bersinar; perpindahan
kekuasaan dari Majapahit ke Demak
diwujudkan karena adanya
perpindahan sinar; adanya wahyu
kraton juga diwujudkan dalam bentuk
sinar cemerlang .
Dari pandangan tersebut, api sela
mungkin untuk bukti penguat bahwa di
desa Sela terdapat pusat Kerajaan
Medang Kamulan yang tetap misterius
itu. Di Daerah itu Reffles masih
menemukan sisa - sisa bekas kraton
tua ( Reffles, 1817 : 5 ). Peninggalan
itu terdapat di daerah distrik Wirasaba
yang berupa bangunan Sitihinggil.
Peninggalan lain terdapat di daerah
Purwodadi .
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan
dengan adanya “ bukit berapi yang
berlumpur, sumber - sumber garam
dan api abadi yang keluar dari dalam
bumi yang banyak terdapat di daerah
Grobogan tersebut .
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan
perang Diponegoro, Sunan dan Sultan
mengadakan perjanjian tanggal 27
September 1830 yang menetapkan
bahwa makam - makam keramat di
desa Sela daerah Sukawati, akan tetap
menjadi milik kedua raja itu. Untuk
pemeliharaan makam tersebut akan
ditunjuk dua belas jung tanah kepada
Sultan Yogyakarta di sekitar makam
tersebut untuk pemeliharaannya.
( Graaf, 3,1985 : II ). Daerah enclave
sela dihapuskan pada 14 Januari 1902.
Tetapi makam - makam berikut
masjid dan rumah juru kunci yang
dipelihara atas biaya rata - rata tidak
termasuk pembelian oleh Pemerintah.
Menelusuri Jejak sang Penangkap
petir
Ini adalah salah satu legenda Tanah
Jawa, sesosok figur ulama di daerah
Selo, Grobogan, Jawa Tengah yang
bernama Ki Ageng Selo...
Silsilah
Menurut silsilah, Ki Ageng Selo adalah
cicit atau buyut dari Brawijaya
terakhir. Beliau moyang (cikal bakal-
red) dari pendiri kerajaan Mataram
yaitu Sutawijaya. Termasuk Sri Sultan
Hamengku Buwono X (Yogyakarta)
maupun Paku Buwono XIII (Surakarta).
Menurut cerita Babad Tanah Jawi
(Meinama, 1905; Al-thoff, 1941), Prabu
Brawijaya terakhir beristri putri
Wandan kuning dan berputra Bondan
Kejawan/Ki Ageng Lembu Peteng yang
diangkat sebagai murid Ki Ageng
Tarub. Ia dikawinkan dengan putri Ki
Ageng Tarub yang bernama Dewi
Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi
Nawang Wulan. Dari perkawinan
Lembu Peteng dengan Nawangsih,
lahir lah Ki Getas Pendowo
(makamnya di Kuripan, Purwodadi). Ki
Ageng Getas Pandowo berputra tujuh
dan yang paling sulung Ki Ageng Selo.
Ki Ageng gemar bertapa di hutan, gua,
dan gunung sambil bertani menggarap
sawah. Dia tidak mementingkan harta
dunia. Hasil sawahnya dibagi-bagikan
kepada tetangganya yang
membutuhkan agar hidup
berkecukupan. Salah satu muridnya
tercintanya adalah Mas Karebet/Joko
Tingkir yang kemudian jadi Sultan
Pajang Hadiwijaya, menggantikan
dinasti Demak.
Putra Ki Ageng Selo semua tujuh
orang, salah satunya Kyai Ageng Enis
yang berputra Kyai Ageng Pamanahan.
Ki Pemanahan beristri putri sulung
Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas
Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya.
Melalui perhelatan politik Jawa kala
itu akhirnya Sutawijaya mampu
mendirikan kerajaan Mataram
menggantikan Pajang.
Sang Penangkap Petir
Kisah ini terjadi pada jaman ketika
Sultan Demak Trenggana masih hidup.
Syahdan pada suatu sore sekitar
waktu ashar, Ki Ageng Sela sedang
mencangkul sawah. Hari itu sangat
mendung, pertanda hari akan hujan.
Tidak lama memang benar - benar
hujan lebat turun. Petir datang
menyambar-nyambar. Petani lain
terbirit-birit lari pulang ke rumah
karena ketakutan. Tetapi Ki Ageng
Sela tetap enak - enak menyangkul,
baru sebentar dia mencangkul,
datanglah petir itu menyambar Ki
Ageng Selo. Gelegar..... petir
menyambar cangkul di genggaman Ki
Ageng. Namun, ia tetap berdiri tegar,
tubuhnya utuh, tidak gosong, tidak
koyak. Petir berhasil ditangkap dan
diikat, dimasukkan ke dalam batu
sebesar genggaman tangan orang
dewasa. Lalu, batu itu diserahkan ke
Kanjeng Sunan di Kerajaan Istana
Demak.
Kanjeng Sunan Demak –sang Wali
Allah-- makin kagum terhadap
kesaktian Ki Ageng Selo. Beliau pun
memberi arahan, petir hasil tangkapan
Ki Ageng Selo tidak boleh diberi air.
Kerajaan Demak heboh. Ribuan orang
--perpangkat besar dan orang kecil--
datang berduyun-duyun ke istana
untuk melihat petir hasil tangkapan Ki
Ageng Selo. Suatu hari, datanglah
seorang wanita, ia adalah intruder
(penyusup) yang menyelinap di balik
kerumunan orang-orang yang ingin
melihat petirnya Ki Ageng.
Wanita penyusup itu membawa bathok
(tempat air dari tempurung kelapa)
lalu menyiram batu petir itu dengan
air. Gelegar... gedung istana tempat
menyimpan batu itupun hancur luluh
lantak, oleh ledakan petir. Kanjeng
Sunan Demak berkata, wanita intuder
pembawa bathok tersebut adalah
“petir wanita” pasangan dari petir
“lelaki” yang berhasil ditangkap Ki
Ageng Selo. Dua sejoli itupun
berkumpul kembali menyatu, lalu
hilang lenyap.
Versi lainnya
Versi lain menyebutkan petir yang
ditangkap oleh Ki Ageng Selo berwujud
seorang kakek. Kakek itu cepat -
cepat ditangkap nya dan kena,
kemudian diikat dipohon gandri, dan
dia meneruskan mencangkul
sawahnya. Setelah cukup, dia pulang
dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan
dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh
Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam
jeruji besi yang kuat dan ditaruh
ditengah alun - alun. Banyak orang
yang berdatangan untuk melihat ujud “
bledheg “ itu. Ketika itu datanglah
seorang nenek - nenek dengan
membawa air kendi. Air itu diberikan
kepada kakek “ bledheg “ dan
diminumnya. Setelah minum
terdengarlah menggelegar
memekakkan telinga. Bersamaan
dengan itu lenyaplah kakek dan nenek
“ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi
tempat mengurung kakek “ bledheg
hancur berantakan.
Sejak saat itulah, petir tak pernah
unjuk sambar di Desa Selo, apalagi di
masjid yang mengabadikan nama Ki
Ageng Selo. "Dengan menyebut nama
Ki Ageng Selo saja, petir tak berani
menyambar," kata Sarwono kepada
Gatra.
Soal petir yang tidak pernah ada di
Desa Selo diakui oleh Sakhsun, 54
tahun. Selama 22 tahun ia menjadi
muazin Masjid Ki Ageng Selo, dan
baru pada akhir November 2004
dilaporkan ada petir yang menyambar
kubah masjid Ki Ageng Selo. Lelaki
berambut putih itu pun terkena
dampaknya. Petir itu menyambar
sewaktu ia memegang mikrofon
hendak mengumadangkan azan asar.
Sakhsun pun tersengat. Bibirnya
bengkak. "Saya tidak tahu itu isyarat
apa. Segala kejadian kan bisa
dijadikan sebagai peringatan bagi kita
untuk lebih beriman," katanya. Dia
sedang menebak-nebak apa yang
bakal terjadi di desa itu. Menurut
kepercayaan setempat, kubah masjid
adalah simbol pemimpin. Apakah
artinya ada pemimpin setempat yang
akan tumbang?
Larangan Menjual Nasi
Suatu hari ada dua orang pemuda yang
bertamu ke rumah Ki Ageng Selo,
Mereka bermaksud hendak belajar
ilmu agama pada KI Ageng Selo.
Sebagai tuan rumah yang baik, KI
Ageng selo menghidangkan nasi pada
mereka, namun mereka menolakya
dengan alasan masih kenyang.
Setelah merasa sudah cukup ( belajar
ilmu agama ), kedua pemuda itu pun
memohon untuk pamit pulang.
Sepulang dari rumah Ki Ageng, kedua
pemuda itu tidak langsung pulang,
melainkan mampir ke warung nasi
dulu untuk makan. KI Ageng Selo
melihat hal itu. Beliau merasa sakit
hati dan setelah itu beliau berkata “
Orang-orang di desa selo tidak boleh
menjual nasi, kalau ada yang
melanggarnya maka bledheg akan
menyambar-nyambar di langit desa
Selo “. Hingga saat ini penduduk yang
tinggal di sekitar Komplek Makam KI
Ageng Selo tidak ada yang menjual
nasi.
Napak Tilas KI Ageng Selo
Terletak di dusun Krajan, RT II RW 02,
Desa Selo Kecamatan Tawangharjo
Kabupaten Grobogan. Tempat ini juga
merupakan salah satu tempat wisata
di Kabupaten Grobogan karena
mengandung nilai-nilai sejarah yang
luar biasa.
Tempat-tempat penting yang masih
berkaitan dengan KI Ageng Selo
1. Makam KI Ageng Tarub
Terletak di desa Tarub, Kecamatan
Tawangharjo Kabupaten Grobogan
sekitar 4 Km dari Makam KI Ageng
Selo. Beliau adalah Buyut dari KI
Ageng Selo. Di komplek Makam ada
gentong yang airnya berasal dari
sendang bidadari.
2. Makam Bondan Kejawan / Lembu
Peteng ( Kakek KI Ageng Selo )
Terletak di dusun Mbarahan Desa
Tarub, Kecamatan Tawangharjo
Kabupaten Grobogan. Sekitar 3 Km
dari Makam KI Ageng Selo. Di area
komplek makam banyak di bangun
patung dan stupa. Kini kondisinya
semakin tidak terawat. Banyak patung
yang mulai rusak. Namun masih
banyak orang yang datang untuk
berziarah
3. KI Ageng Getas Pendowo
Beliau adalah Bapak dari KI Ageng
Selo. Makamnya terletak di Kuripan
Purwodadi sekitar 15 Km dari Makam
KI Ageng Selo.
WATU ONDO
Potensi wisata ini terletak di
dsn.Linduk, Ds.Lebak, kec.Grobogan,
kab.Grobogan. Untuk sampai ke lokasi
ini anda masih harus masuk kawasan
hutan jati sejauh 1 km.
Akses jalan yang belum mendapat
perhatian sering dikeluhkan
pengunjung yang pernah kesini.
Namun setelah sampai ke obyek ini
akan merasa puas karena pesona
alam yang luar biasa.
KECIPUT WIJEN
Yaaa, keciput wijen
adalah salah satu jenis kue kering
yang banyak digemari dan biasanya
disajikan saat lebaran. Seperti
namanya, kue keciput ini ada taburan
pada bagian luar kuenya, yaitu wijen,
yang membuat kue legit ini makin
renyah dan gurih saat dinikmati.
Kue KECIPUT WIJEN yang ini adalah
produksi salah satu Usaha Mikro Kecil
(UMK) di Kabupaten Grobogan, yakni
Mentari Snack yang beralamat di Desa
Mojoagung, Karangrayung yang
dikelola oleh Ibu Isnaini Nurnaningsih.
Selain langsung bisa dipesan ke
tempat produksinya di Desa
Mojoagung, Karengrayung, Keciput
Wijen produksi Mentari Snack juga
bisa diperoleh di berbagai outlet di
Karangrayung, Godong, dan
Purwodadi. Silahkan dicoba