Makam Ki Ageng Selo, dan Makam Ki
Bondan Kejawan (Lembu Peteng)
Dalam perkembangan islam di tanah
jawa, ternyata banyak sekali
membubuhkan mitos, budaya, adat,
dan legenda yang beragam. Kali ini
saya coba untuk mengupas sedikit
tetang keluarga Aji Saka.
Diceritakan bahwa aji saka ini adalah
sosok sakti yang mengalahkan dewata
cengkar, penguasa medang kamulan
yang suka memangsa manusia,
sehingga setelah sepeninggal dewata
cengkar diangkatah aji saka menjadi
prabu sekaligus penguasa medang
kamulan yang baru.
Disinilah cerita Bledug kuwu berasal.
Kisah ini berawal dari seekor ular
naga yang mengaku anak dari aji
saka, hal ini memang beralasan
mengingat aji saka pernah mempunyai
satu pengalaman unik. Pada suatu hari
Aji Saka sedang menyepi di hutan dia
melihat seekor ular naga yang sedang
bertapa di sebuah goa. Aji Saka panas
hatinya, ular tersebut dibunuhnya
setelah ular naga itu mati terdengarlah
suara . Suara tersebut berasal dari
arwah ular naga yang mati itu. Dan
umpatan ular itu nantinya menjadi
kenyataan. Pada suatu hari Aji Saka
ingin nantinya menjadi kenyataan.
Pada suatu hari Aji Saka ingin
menengok Nyai Janda Sengkeran.
Dahulu ketika dia datang pertama kali
di negara Medang Kamulan dia
mengetahui Nyai Janda mempunyai
seorang anak perempuan yang cantik,
putri tersebut sekarang mestinya
sudah dewasa anak itu bernama Retno
Dewi Rarasati. Ketika dia sampai ke
rumah janda tersebut dia melihat
Retno Dewi Rarasati sedang
menumbuk padi. Kainnya terbuka
keatas dan kelihatanlah pahanya yang
mulus. melihat hal tersebut Aji Saka
jatuh birahinya. Dia tidak menahan
asmaranya maka jatuhlah air maninya
ke bumi kebetulan pada waktu itu ada
seekor ayam kate putih simbar delima
milik Nyi janda. Air mani itu
dimakannya kemudian pergi. Dilain
pihak Retno Dewi Rarasati melihat Aji
Saka seperti kena gendam dan jatuh
cinta nafsu asmaranya tidak
tertahankan, maka noktahnya jatuh
cinta. Nafsu asmaranya tidak
tertahankan maka noktahnya jatuh ke
bumi. Noktah itupun dimakan oleh
ayam kate tersebut . Kehendak Dewata
tidak dapat diingkari. Ayam tersebut
kemudian bertelur sebutir. Prabu Aji
Saka sangat malu dengan peristiwa
tersebut, inilah pembalasan ular naga
yang mati di bunuhnya. Selanjutnya
telur itulah yang kemudian berubah
menjadi seekor ular yang meminta
pertanggungjawaban dari sang prabu.
Sang prabu yang mengetahui hal
tersebut kemudian membuat
keputusan bahwa beliau akan
mengakui sang ular sebagai anaknya
apabila si jaka linglung begitu sebutan
ular tersebut, mampu mengalahkan
musuh sang prabu yaitu dewata
cengakar yang kini menjelma menjadi
buaya putih dan bersemayam di pantai
selatan. jaka lilinglung yang
menyanggupinya kemudian langsung
berangkat menuju pantai selatan
melalui bawah tanah sesuai syarat
sang prabu yang tidak ingin menakuti
penduduk sekitar. Sesampainya di
pantai selatan jaka linglung bertemu
dengan ratu pantai selatan yang kala
itu sedang sedih karena rakyatnya
diganggu oleh buaya putih jelmaan
dewata cengkar. atas kesepakatan
bersama jaka linglung maw membantu
sang ratu dengan imbalan dia akan
dinikahkan dengan salah satu dari
putri beliau. sambil menyelam minum
air . Kenyataannya jaka linglung
berhasil mengalahkan buaya putih
tersebut dan sesuai janji akhirnya
jaka linglung menikah dengan retno
blorong (nyi blorong) anak dari ratu
kidul. jaka linglung yang berhasil
mengalahkan buaya putih tersebut,
kembali menemui sang prabu untuk
meminta pengakuan. bersama blorong
dia kembali ke medang kamulan
dengan melewati jalur bawah tanah
sama seperti ketika dia berangkat.
Dia mengarah ke barat, lewat
Samudra, masuk ke dalam tanah,
timbul kembali di tanah pasundan.
Masuk ke tanah lagi timbul di Jawa
Tengah itu sebabnya di Jawa banyak
ditemukan sumber air yang
mengandung garam ( Bleng ), sebab
sumber itu merupakan petilasan Jaka
Linglung tersebut. Dalam
perjalanannya diteruskan ke timur
lewat bawah tanah dan muncul
kembali ke Demak di Desa Walak.
Masuk ke tanah lagi dan muncul
kembali di Grobogan dan berhenti di
rawa – rawa garam . Dari Ngembak
( Rawa – rawa ? ) Jaka Linglung
meneruskan perjalanan ke
Banyuwangi, terus ke Jana Cerewek,
ke Banjar, Dikil. Di Jati, Jaka Linglung
tidur, disitu upasnya jatuh. Tempat
jatuhnya upas itu kemudian
dinamakan Desa Gasak. Disinilah
kemudian ada “Bleduk Upas“ yang
tidak dapat dimakan. Jaka Linglung
melanjutkan perjalanan sampai ke
Kuwu. Disini agak lama. Dari Kuwu
inilah Jaka Linglung datang
menghadap Prabu Jaka di Medang
Kamulan sejak itulah dia diterima
sebagai Putera Prabu Jaka. Oleh
Prabu Jaka, Jaka Linglung diangkat
sebagai Putra Mahkota dengan
gelarnya Prabu Anom Linglung
Tunggul Wulung. Istana Kadipaten
kemudian dipindahkan ke Desa
Kesanga. Sedang istrinya Retno
Blorong ditempatkan di Grobogan di
Desa Ngembak, wilayah Medang Kana.
Kedaton Kesanga disebut pula Kedaton
Kadipaten, Tumenggungan, Kariyan
Panggabean atau Kranggan. Beberapa
waktu menjadi Adipati Anom Tunggul
Wulung kemudian pergi bertapa di
Tunggul Wulung Kesanga.
Lepas dari cerita Bledug Kuwu kita
beralih sejenak ke kisah ki ageng
selo. Saya ceritakan sedikit tentang
pohon keluarga dari Ki ageng selo.
Menurut cerita dalam babad tanah
Jawi (Meinama, 1905; Al – thoff,
1941), Ki Ageng Selo adalah keturunan
Majapahit. Raja Majapahit : Prabu
Brawijaya terakhir beristri putri
Wandan kuning. Dari putri ini lahir
seorang anak laki – laki yang
dinamakan Bondan Kejawan. Karena
menurut ramalan ahli nujum anak ini
akan membunuh ayahnya, maka oleh
raja, Bondan Kejawan dititipkan
kepada juru sabin raja : Ki Buyut
Masharar setelah dewasa oleh raja
diberikan kepada Ki Ageng Tarub
untuk berguru agama Islam dan ilmu
kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub,
namanya diubah menjadi Lembu
Peteng. Dia dikawinkan dengan putri
Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi
Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi
Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau
Kidang Telangkas tidak lama
meninggal dunia, dan Lembu Peteng
menggantikan kedudukan mertuanya,
dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari
perkawinan antara Lembu Peteng
dengan Nawangsih melahirkan anak Ki
Getas Pendowo dan seorang putri
yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra
tujuh orang yaitu : Ki Ageng Selo, Nyai
Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai
Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai
Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .
Cerita lengkap ki ageng selo klik disini
Nah sekarang sedikit ada penjelasan
mengenai hubungan darah antara ki
ageng selo dengan lembu peteng
kan?? Jadi bisa disimpulkan bahwa
lembu peteng atu ki bondan kejawan
adalah kakek dari ki ageng selo. Lalu
apa hubungannya dengan Bledug
kuwu???
Kita tahu bahwa terbentuknya bledug
kuwu disebabkan karena kepulangan
jaka linglung yang menempuh jalur
tanah dan kita ketahui ketika jaka
linglung kembali dia sudah beristrikan
retno blorong atau akrap kita sebut nyi
blorong. Disini korelasinya!! Ki
bondan kejawen setelah dewasa dia
diasuh oleh jaka tarub dimana jaka
tarub itu sendiri mempunyai seorang
istri bidadari bernama nawang wulan.
Dikisahkan bahwa nawang wulan
adalah seorang bidadari yang tidak
bisa kembali ke kahyangan
disebabkan selendangnya dicuri oleh
jaka tarub yang kemudian menjadi
suaminya. Dalam hubungannya
Nawang wulan tidak mengetahui kalau
ternyta jaka tarublah yang
membuatnya tidak bisa kembali ke
kahyangan, namun pada suatu hari
akhirnya nawang wulan
mengetahuinya dan akhirnya
meninggalkan suami dan anaknya
yang kala itu baru berusia 5 tahun.
Lama di kahyangan nawang wulan
merasa rindu dengan keluarganya dan
memutuskan untuk kembali ke dunia
dengan berbagai resiko yang
ditanggungnya. Maka dilanjutkanlah
kehidupannya di dunia bersama anak
dan suaminya samapi pada suatu
ketika saat itu tiba. nawang wwulan
telah mengetahui bahwa anak laki-
lakinya akan meninggal pada usia 20
tahun karena sakit dan saat putranya
meninggal dia harus mengabdi pada
seseorang yang tak lain adalah retno
blorong atau nyi blorong. Yups bener,
nyi blorong yang menikah dengan jaka
linglung putra ajisaka. dewi nawang
wulan diangakt menjadi anak oleh nyi
blorong dan tinggal selamanya disana
meninggalkan jakata tarub dan anak
keduanya nawangsih yang nantinya
akan menikah dengan ki bondan
kejawen atau lembu peteng kakek dari
ki ageng selo. Nah sekarang sudah
bisa menyimpulkan silsilah dan
korelasi dari ke3 tempat wisata
tersebut??
Singkatnya begini, bisa dikatakan
bahwa ki ageng selo adalah cicit dari
nyi blorong dan (yang paling bawah
dari cicit pa yah?? ) dari ajisaka, sang
pembuka jalan pertama kali dalam
masuknya islam di indonesia.
GROBOGAN 24 JAM
9/19/2015
KETERHUBUNGAN KELUARGA BLEDUG KUWU
9/12/2015
API ABADI MRAPEN
Api abadi Mrapen adalah sebuah
kompleks yang terletak di desa
Manggarmas, kecamatan Godong,
Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Kawasan ini terletak di tepi jalan raya
Purwodadi - Semarang, berjarak 26
km dari Kota Purwodadi. Kompleks api
abadi Mrapen merupakan fenomena
geologi alam berupa keluarnya gas
alam dari dalam tanah yang tersulut
api sehingga menciptakan api yang
tidak pernah padam walaupun turun
hujan sekalipun.
Banyak peristiwa besar mengambil
api dari kompleks api abadi Mrapen
sebagai sumber obornya, misalnya
pesta olahraga internasional Ganefo I
tanggal 1 November 1963. Api abadi
dari Mrapen juga digunakan untuk
menyalakan obor Pekan Olahraga
Nasional (PON) mulai PON X tahun
1981, POR PWI tahun 1983 dan
HAORNAS. Api abadi dari Mrapen juga
digunakan untuk obor upacara hari
raya Waisak.
Selain api abadi, di komplek tersebut
juga terdapat kolam dengan air
mendidih yang konon dapat
dipergunakan untuk mengobati
penyakit kulit, serta batu bobot yang
konon apabila seseorang dapat
mengangkatnya maka yang
mengangkat tersebut akan
mendapatkan keinginannya.
LEGENDA SENDANG COYO
Alkisah prabu anglingdarmo Raja
malowopati, seorang raja yang arif
dan bijaksana. yang mempunyai ilmu
bisa mendengar percakapan berbagai
macam binatang.
Ketika prabu angling darma sedang
bercanda dengan isterinya dewi
setyawati, tiba-tiba tersenyum
mendengar cicak jantan merayu cicak
betina. dei setyawati tersinggung
karena dia mengira suaminya
mencibir dirinya, dewi setyawati
marah dan mengancam akan
membakar diri apabila tidak diberi
penjelasan yang membuat suaminya
tersenyum.
Suaminya kemudian menjelaskan
bahwa dia bisa mendengar
percakapan berbagai binatang, dewi
setyawati menjadi tertarik dan
berkeinginan memiliki ilmu tersebut.
namun di tolak oleh prabu
anglingdarmo karena di samping tidak
tahu cara mrnurukan ilmu tersebut dia
juga sudah di pesan oleh gurunya
bahwa ilmu tersebut hanya dapat
dimiliki oleh dirinya sendiri. dewi
setyawati bukanya mengurungkan
permintaanya melainkan betul-betul
akan melaksanakan ancaman karena
prabu anglingdarmo mencintai istrinya
maka dia putuskan untuk bakar diri
berdua.
Kobaran api sudah menyala-yala
pangung untuk menerjunkan dewi
setyawati dan prabu anglingdarmo
sudah dipersiapkan. rakyat berduyun-
duyun memenuhi alun-alun untuk
menyaksiakn raja dan permaisurinya
melakukan bakar diri. dewi setyawati
menerjunkan diri dalam kobaran api.
ketika giliran prabu anglingdarmo,
tiba-tiba dia mendengar lecehan dari
seekor kambing. kambing tersebut
memakinya sebagai seorang raja yang
bodoh karena masalah kecil mau
menuruti ancaman istrinya yang tidak
masuk akal. prabu anglingdarmo
tersadar, segera dia berlari mencri air
utuk memadamkan api yang sudah
membakar istrinya. namun air sulit di
dapat, maka prabu anglingdarmo
membuat sendang yang airnya begiti
derasnya untuk memedamkan kobaran
api .
Sendang tersebut kemudian di jaga
oleh pengawal kerajaan yang bernama
Gabusrowo yang pandai mengapung
seperti gabus. penganti gabusrowo
adalah ki demang kepalang. untuk
mengabdikan sendang tersebut ki
demang kepalang puasa 40 hari 40
malam yang di mulai pada hari
anggara kasih (selasa kliwon) yang
berahir pada hari sukro manis (jum’at
legi). selesai puasa ki demang
kepalang karena dia merasakan
tubuhnya segar dan wajahnya seolah-
olah bercahaya oleh penduduk
setempat ahirnya sendang tersebut
dinamkan” sendang caya” yang
diambil dari kata cahaya yang berarti
bersinar.
BLEDUG KUWU
Jika Anda melintas di Purwodadi, disan terdapat situs kuno yang patut dikunjungi.
Maka mampir saja jika ingin
mengetahui jejak sejarah. Wisata
alam ini sungguh aneh, ajaib dan
menakjubkan. Bledug Kuwu namanya.
Konon, kubangan tanah yang
menyemburkan lumpur di Desa Kuwu,
Kecamatan Kradenan, Kabupaten
Grobogan itu adalah jejak ular raksasa
bernama Jaka Linglung. Dia usai
membunuh Bajul Putih di laut selatan.
Usai pertarungan, ia perjalanan pulang
melalui jalur bawah tanah dan
kubangan itu dipercaya sebagai bekas
tubuh Jaka Linglung yang keluar dari
dalam perut bumi.
9/10/2015
DIBALIK KEINDAHAN POHON YANG DIKERAMATKAN
kenapa pohon yang dikeramatkan
adalahpohon yang besar dan berusia
tua? Kenapa mayoritas adalah pohon
beringin? Jawabannya adalah karena
pohon,terutama pohon beringin yang
besar memiliki nilai hidrologis yang
tinggi.Struktur perakaran pohon
beringin yang dalam menjadikannya
mampu menyimpan cadangan air
dengan baik pada musim hujan dan
mengeluarkannyapada musim
kemarau. Kita tidak pernah menyadari
bahwa sebenarnya pohon beringin
tumbuh di daerah yang menjadi
sumber air. Semakin banyak
keberadaan pohon beringindi suatu
daerah maka ketersediaan air di
daerah tersebut akan semakinterjaga.
Kita dapat membedakan bagaimana
kondisi air di daerah yang banyak
terdapat pohon (di desa) dengan
daerah yang sangat sedikit pohonnya
(di kota). Itulah sebabnya mengapa
penduduk kota banyak yang
menggunakan air dariPDAM.Zaman
semakin maju dan perkembangan
teknologi semakin pesat. Sudah
saatnya kita meninggalkan
pemahaman yang salah tentang pohon
keramat. Sebagai manusia terdidik,
kita harus mampu melihatnya dari
sudut pandang ilmiah bahwa di balik
pengeramatan suatu pohon pasti ada
maksud tersembunyi di baliknya. Jika
kita tidak diperbolehkan menebang
suatu pohon, itu artinya bahwa pohon
memiliki fungsi strategis untuk
menjaga sumber air yang kita gunakan
sehari-hari. Jika kita menebang
semua pohon, terutama pohon besar
yang berusia tua, dari mana kita akan
mendapatkan cadangan air? Pada
akhirnya, istilah pohon keramat
menjadi local wisdom yang harus kita
jaga namun disertai dengan
pemahaman yangbenar tentang sebab
pengeramatan pohon tersebut.
Pengeramatan pohon hanyalah satu
cara agar kita bisa menjaga
sumberdaya air kita untuk kehidupan
yang lebih baik.Sudahkah kita
paham
FOSIL KEPALALA KERBAU RAKSASA DITEMUKAN DI GROBOGAN
Warga Desa Banjarejo, Kecamatan
Gabus, Kabupaten Grobogan, Jawa
Tengah, digemparkan dengan
penemuan fosil yang menyerupai
kepala kerbau berukuran raksasa,
Rabu (09/09/2015) sore.
Fosil yang ditemukan oleh seorang
warga setempat di sungai lusi itu,
berukuran tiga kali lipat lebih besar
jika dibandingkan dengan ukuran
kepala kerbau pada umumnya.
Penemu fosil, Budi Setyo Utomo (35),
menuturkan, dirinya menemukan fosil
tersebut saat mencari ikan di Sungai
Lusi yang tak jauh dari rumahnya
beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, kata Budi, dirinya yang
sedang berenang di tengah aliran
sungai tak sengaja menginjak benda
keras. Benda yang cukup memancing
rasa penasarannya itu kemudian
ditelusuri.
" Saat saya berenang di sungai, saya
terkaget karena menginjak sesuatu
benda. Karena penasaran saya lalu
mencoba mengeceknya. Saat itu
kedalaman air sungai sekitar 60 cm
dan saya tepat berada di tengah-
tengah sungai. Saya lalu menyelam
dan menggalinya. Dan ternyata benda
itu bertanduk seperti kepala kerbau .
Saya temukan sepuluh hari lalu
sekitar pukul tiga sore, " terang Budi
Karena ukuran benda yang
ditemukannya itu cukup besar, maka
Budi meminta bantuan warga untuk
mengeluarkannya dari dasar sungai.
RIWAYAT GEREJA KRISTEN KALICERET
Di sebelah selatan kota Gubug atau ±
8 km ke arah kota Salatiga, terdapat
sebuah dusun bernama Kaliceret.
Dusun tersebut masuk wilayah desa
Mrisi kecamatan Tanggungharjo
Kabupaten Grobogan. Dusun yang
terletak di atas bukit kapur tersebut,
ternyata memiliki bangunan tua
peninggalan zaman pemerintah
kolonial Belanda dahulu. Wujud
bangunan tua tersebut, antara
lainberupa gereja Kristen, bangunan
bekas rumah sakit, dan juga bekas
bangunan kantor rumah sakit. Karena
letak ketiga bangunan yang saling
berdekatan, tampak mempunyai
keterkaitan misi dalam pengembangan
agama Kristen. Dapat dibayangkan
bahwa dusun Kaliceret yang sepi itu,
ternyata dulu pernah menjadi pusat
kegiatan keagamaan dan kemanusiaan
yang dilaksanakan oleh warga
Kristen.Seperti diceritakan dalam
kitab ”Babad Zending di Tanah Jawi”
karangan J.D. WOLTERBEEK, bahwa
gereja tersebut dibangun oleh
perkumpulan Salatiga Zending (S Z)
dalam misinya mengembangkan
agama Kristen di tanah Jawa.
Ditulisnya pula dengan menggunakan
bahasa Jawa sebagai berikut :
“………... Ing rikoe sampoen wonten
pasamoeanipun naliko
djoemenengipun pandito C.R.Kuhnen
ingkang djoemeneng pandito ing
Kalitjeret wiwit tahun 1892 doemoegi
1904 sarto ladjeng dados inspecteur
toewin directeur S.Z wonten ing
Utrecht ing negari Welandi. Ing
djadjahan Kalitjeret panditanipoen
lestantoen manggen wonten ing
doesoen Kalitjeret boten pindah ing
kita kradjaning djadjahanipoen inggih
poeniko kita Demak ………..
Sapengkeripoen pandita Kuhnen ing
Kalitjeret ingkang djoemeneng pandita
toewan H. Kabelitz. Djoemeneng ing
Kalitjeret dumugi ing tahoen
1927”.Dari tulisan itu dapat
dijelaskan, bahwa pada tahun 1892
pendeta C.R.Kuhnen diangkat menjadi
pendeta di Kaliceret. Saat itu di
Kaliceret sudah ada beberapa warga
yang memeluk agama Kristen, dan
sudah melaksanakan kegiatan
pertemuanjamaah setiap hari Minggu
pagi. Sebagai pemimpin jamaah
kadang pendeta yang datang dari
Salatiga, atau kadang dipimpin warga
setempat. Pada tahun 1904
C.R.Kuhnen diangkat menjadi
inspektur dan direktur pada S Z
(Salatiga Zending), yang terletak di
Ultrecht (sebuah kota di negara
Belanda). Selama menjadi pendeta di
wilayah Kaliceret, beliau tinggal di
dusun Kaliceret. Beliau tidak mau
bertempat tinggal di kota pusatwilayah
di Demak, karena ingin selalu dekat
dengan warganya. Sepeninggal
pendeta Kuhnen, yang bertugas
menjadi pendeta di Kaliceret adalah
tuan Kabelitz.Beliau melaksanakan
tugas sebagai pendeta di Kaliceret,
sampai tahun 1927. Kemungkinan
yang dimaksud pusat kota wilayah
dalam kitab Babat Zending di Tanah
Jawi tersebut, adalah pusat wilayah
agama Kristen dan bukan merupakan
pusat wilayah pemerintahan.
Demikian juga berdasarkan sekelumit
penjelasan dalam buku itu,
diperkirakan gereja Kristen, kantor
rumah sakit serta rumah sakit Kristen
yang ada di dusun Kaliceret didirikan
antara tahun 1904 sampai tahun 1927.
Adapun pelaksanaan pembangunan
dipimpin pendeta Kabelitz, dengan
mendapat bantuan dana dari SZ
(Salatiga Zending) di kota Ultrecht
Belanda yang dipimpin pendeta
C.R.Kuhnen. Hal tersebut bisa terjadi
karena pendeta C R. Kuhnen pernah
bertugas di wilayah kaliceret,
sehingga beliau tahu apa yang
dibutuhkan guna pengembangan
agama Kristen di daerah itu. Melihat
cukup lama pendeta Kabelitz bertugas
di wilayah dusun Kaliceret, sehingga
diperkirakan ketiga bangunan tersebut
didirikan secara berurutan. Adapun
yang didirikan pertama kali tentu
bangunan gereja Kristen, mengingat
sebagian besar penduduk dusun
Kaliceret adalah pemeluk agama
Kristen. Adapun sebagai tempat
pelaksanaan pasamuan (doa kebaktian
bersama) waktu itu berada di rumah
milik penduduk, sehingga dibutuhkan
sebuah gereja. Dengan kebutuhan itu,
maka pembangunan gereja tersebut
dilaksanakan.Karena sebagai salah
satu misi agama Kristen waktu itu
juga dalam bidang kesehatan, maka di
dusun Kaliceret didirikan polikliniek
yang akhirnya dapat berkembang
menjadi rumah sakit. Setelahrumah
sakit tersebut berdiri, barulah
dibangun kantor rumah sakit yang
terletak di depannya. Seperti
dijelaskan dalam kitab Babad Zending
di Tanah Jawi, bahwa pada awalnya
para pendeta itulah yang mengobati
warganya yang menderita sakit.
Tetapi pada sekitar tahun 1903
Kabupaten Demak dan Grobogan
terjangkit wabah penyakit, sehingga
pendeta tidak mampu lagi menangani
para pasien yang banyak berobat
kepadanya. Atas bantuan dari Salatiga
Zending maka di Kaliceret didirikan
poliklinik, serta dikirim pula mantri
verpleegster dan vroedvrouw
(sekarang perawat kesehatan) ke
daerah itu. Dengan semakin
banyaknya pasien yang memerlukan
rawat inap, maka dibangun beberapa
bangsal untuk merawat orang sakit.
Akhirnya poliklinik itu berkembang
menjadi sebuah rumah sakit, dengan
diberi nama”Pitoeloengan”.Adapun
nama tersebut disesuaikan dengan
nama rumah sakit Kristen, yang telah
didirikan oleh perkumpulan Zending di
kota Semarang, Purwodadi atau di
Demak. Rumah sakit dikota tersebut,
akhirnya diambil alih pemerintah dan
menjadi Rumah Sakit Umum setelah
Indonesia merdeka.Rumah sakit
Kristen di dusun Kaliceret waktu itu
cukup besar, dan banyak dikunjungi
masyarakat yang berobat
ataumelakukan rawat inap. Ternyata
pengunjung rumah sakit tersebut tidak
hanya khusus bagi warga beragama
Kristen saja, tetapi juga banyak pasien
beragama lain yang datang berobat.
Dengan demikian rumah sakit Kristen
tersebut adalah bersifat umum, dan
tidak membeda-bedakanpada umat
beragamalain. Rumah sakit tersebut
dipimpin seorang dokter Belanda, yang
hanya pada hari-hari tertentu berada
di rumah sakit tersebut. Untuk hari-
hari biasa rumah sakit tersebut
dilayani seorang mantri polikliniek,
dengan dibantu oleh zuster.Perjalanan
rumah sakit Kristen di dusun Kaliceret
cukup lama juga, hingga sampaipada
pemerintahan negara Indonesia.
Adapun pasien di rumah sakit itu, ada
yang berasal dari wilayah Kawedanan
Singenkidul, dan ada pula yang
berasal dari wilayah Kota Praja
Salatiga bagian Utara. Pada waktu
dulu cara mengangkutpasien menuju
ke rumah sakit, menggunakan alat
yang sederhana sekali. Pasien
diangkat menggunakan kursi atau
tempat tidur kecil, kemudian dipikul
oleh empat orang. Keluarga atau famili
berjalan di belakang, dengan
membawa tikar atau beberapa potong
pakaian ganti.Sebelum tahun 1960-an,
rumah sakit tersebut masih menerima
pasien rawat inap. Tetapi setelah
tahun 1960, rumah sakit Kristen di
Kaliceret itu tidak lagi menerima
pasien rawat inap lagi. Tidak jelas
mengapa hal itu dapat terjadi, karena
sejak itu ruangan sebagai tempat
rawat inap menjadi kosong.Sekitar
tahun 1973, sebagian bangunan
bangsal bekas rumah sakit di dusun
kaliceret dirobohkan oleh Panitia
Pembangunan Rumah sakit Kristen di
kota Purwodadi. Hal tersebut
dilakukan, karena kayunya digunakan
membangun rumah sakit Yayasan
Kristen Untuk Kesehatan Umum
(Yakkum) yang akan didirikan di kota
Purwodadi. Setelah bangunan rumah
sakit Yakkum di kota Purwodadi
selesai dikerjakan, Panitia
Pembangunan memberinya nama
RumahSakit Panti Rahayu. Rumah
sakit YakkumPurwodadi sekarang
sangat menjadi terkenal di Kabupaten
Grobogan, yang mungkin hampir sama
terkenalnya dengan rumah sakit
”Pitoeloengan” Kaliceret waktu
dulu.Bekas bangunan kantor rumah
sakit Kristen di dusun Kaliceret,
terletak berhadapan dengan bangunan
rumah sakit atau disebelah utara
bangunan gereja Kristen. Seluruh
bangunan kantor terbuat dari kayu jati,
dengan bentuk bangunan yang bergaya
khas Eropa. Sebagai ciri dari bentuk
bangunan ala Barat tersebut, antara
lain memiliki pintu dan daun jendela
yang tinggi. Dulu bangunan kantor itu
selain digunakan sebagai kantor
rumah sakit, juga digunakan sebagai
tempat tinggal pendeta yang
melaksanakan tugas disana. Sebagai
upaya dari misi Zending untuk
mengembangkan agama Kristen di
daerah Kaliceret, ternyata dapat
berjalan dengan cukup baik. Hal
tersebut terbukti dengan dapat
berkembangnya agama Kristen di desa
Ringinharjo dan Ringinkidul, yang
masih dalam wilayah Asistenan
Gubug. Karena melihat perkembangan
agama Kristen di dua desa itu cukup
baik, maka dengan mendapatkan
bantuan dana dari perkumpulan
Zending didirikan sebuah gereja
Kristen. Adapun gereja Kristen itu
didirikan di desa Ringinkidul, yang
diberi nama gereja ”Tempurung”.